Tuesday, July 9, 2013

Hikmah Ramadhan; Bulan Puasa Kesempatan untuk Merenungi Arti Kebahagiaan yang Sesungguhnya

Kebahagiaan adalah impian dan harapan setiap manusia. Semua kita menganggap kemiskinan dan musibah adalah fenomena yang pahit dalam kehidupan. Karena itu, umumnya manusia selalu berusaha mengejar kebahagiaan dan kesejahteraan yang lebih besar. Para filsuf banyak mengemukakan pandangan mengenai kebahagiaan atau kemalangan. Victor Hugo mengatakan, "Orang yang bahagia adalah orang yang memiliki salah satu di antara kedua hal ini, buku yang baik atau teman yang suka membaca dan menelaah buku." Para filsuf agama-agama samawi menyatakan bahwa sumber kebahagiaan adalah ketika manusia telah bertemu dengan Tuhannya. Namun, Karl Marx justru menganggap bahwa pandangan agama yang menyatakan bahwa "kebahagiaan manusia yang sejati dapat diperoleh dari Tuhan", akan mengasingkan manusia dari kemampuannya membahagiakan dirinya sendiri. Karena itu bagi Karl Marx, agama cuma menawarkan ilusi-ilusi yang membelenggu manusia sehingga penghapusan agama justru merupakan syarat bagi tercapainya kebahagiaan sejati bagi manusia. Sebagian orang menganggap bahwa kebahagiaan atau kemalangan diukur dari banyaknya harta yang dimilikinya. Sebagian lainnya mengukur kebahagiaan dari seberapa besar kekuasaan atau keilmuan yang dimilikinya. Namun, benarkah harta, kekuasaan, atau kekayaan menjadi sumber kebahagiaan? Bukankah sepanjang sejarah kita sering mendengar kisah tentang orang yang hartanya sangat banyak, lalu akhirnya hidup menderita, seperti Qarun atau tentang orang yang sangat berkuasa, namun kemudian mati bunuh diri, seperti Hitler atau filsuf yang jenius, namun kemudian menderita keterbelakangan mental seperti Nietzsche? Jawaban dari pertanyaan ini adalah bahwa orang yang mengenal hakikat wujud dan rahasia penciptaan dengan baik, akan mengenal bahwa kebahagiaan seseorang diawali dengan pemahaman atas posisi dan tugasnya di alam semesta ini. Ketika telah memiliki pemahaman itu, ia akan menggunakan umurnya dalam perdagangan abadi, dan dia tidak akan menjadikan dirinya sebagai budak dari kekayaan, jabatan, atau fenomena-fenomena lainnya yang tidak kekal. Manusia yang seperti ini akan menggunakan hartanya yang banyak, umurnya yang panjang, atau ilmunya yang banyak untuk menyiapkan lahan bagi kebahagiaan abadi di akhirat, bukan kebahagiaan yang fana dan sementara. Mengenai kebahagiaan, Imam Ali as berkata, "Ketika kalian bersama dengan kebenaran, kalian sesungguhnya telah menemukan kebahagiaan. Orang yang nafas dan nyawanya selalu disumbangkan untuk berjuang di jalan perbaikan dan kebaikan, akan berbahagia. Sebaliknya, orang yang berjalan di jalan yang batil, berarti dia telah melepaskan inti jatidirinya dan dia akan menjadi orang yang celaka. Orang yang beruntung adalah orang yang semua pekerjaannya ditujukan untuk Allah agar ia memiliki cadangan abadi (di akhirat kelak)." Natasha, seorang perempuan Inggris yang mulai memeluk agama Islam sejak tahun 1997, menceritakan kenangan indahnya tentang bulan Ramadhan sebagai berikut. "Untuk meneliti tentang agama Islam, saya memutuskan untuk hadir di tengah-tengah kaum muslimin sehingga saya bisa mengenal mereka dari dekat. Kebetulan, saat itu adalah bulan Ramadhan, bulan ketika kaum muslimin sejak sahur hingga maghrib berpuasa, dan dengan mengingat Allah, mereka menyucikan jiwa dan pikiran mereka. Atas undangan teman saya, saya datang untuk menghadiri ifthar atau acara berbuka puasa. Setelah duduk dalam majelis itu beberapa saat, terdengarlah suara yang sangat menyentuh jiwa, yaitu suara azan. Ketika mendengar suara ini, saya merasakan suatu perasaan yang menakjubkan, seolah-olah jiwa saya sejak bertahun-tahun lalu telah mengenal suara ini. Setelah itu, mereka semua menunaikan shalat dan usai shalat, mereka pun bersama-sama menyantap hidangan ifthar. Makanan yang terhidang sederhana, namun bernuansa khas, yaitu kurma, halwa, teh, dan sup. Di saat mereka menyantap hidangan, mereka berkali-kali mengucapkan syukur kepada Allah atas bulan Ramadhan yang telah dianugerahkan kepada mereka dan mereka berdoa untuk semua orang. Suasana saat itu penuh dengan cinta dan ketulusan, sehingga saya sangat terpengaruh." Natasha melanjutkan, "Dalam pertemuan itu, semua yang hadir saling menolong, seolah-olah tidak ada yang menjadi tuan rumah di sana. Saya merasa sedang berada di tengah keluarga saya sendiri. Setelah menyantap hidangan buka puasa, merekapun sibuk membaca al-Quran, lalu saling berdiskusi tentang masalah-masalah agama. Dengan penuh antusias, saya mendengarkan diskusi mereka dan saya juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Sedikit demi sedikit, saya merasa bahwa saya telah menemukan hakikat yang selama ini saya cari-cari. Di sana saya memahami bahwa Islam mengajarkan kepada manusia cara yang benar dalam menjalani hidup dan Islam membimbingnya ke jalan menuju kebahagiaan. Saya tidak akan pernah melupakan kenangan hari di bulan Ramadhan itu; hari ketika saya memasuki sebuah dunia yang indah; dunia yang di dalamnya tidak ada hal lain, selain kebaikan dan keselamatan." Ramadhan memang memiliki keistimewaan spiritual tersendiri yang tidak ada bandingannya. Pengalaman saudari kita tadi yang memeluk agama Islam setelah ia menyaksikan kaum muslimin beribadah di bulan suci Ramadhan menunjukkan bahwa Ramadhan memang bulan yang istimewa. Dalam salah satu hadits disebutkan bahwa Ramdhan adalah bulan ketika kita semua menjadi tamu Allah Swt. Suatu hari, seseorang mendatangi Imam Shadiq as dan berkata, "Saya tidak memahami makna dua ayat al-Quran, pertama ud'uuni astajib lakum (berdoalah kepada-Ku dan Aku akan mengabulkannya). Namun, mengapa doa-doa saya tidak dikabulkan oleh Allah?" Imam Shadiq menjawab, "Ketahuilah bahwa Allah selalu memenuhi janjinya. Namun doa memiliki syarat, yaitu dalam hidup, janganlah berbuat dosa. Jika doa diiringi dengan dosa, dosa itu akan menghalangi terkabulnya doa." Lelaki itu melanjutkan pertanyaannya, "Allah berfirman wa maa anfaqtum min syai'in, fahuwa yukhlifuh (Jika kalian berinfak, Allah akan menggantikan apa yang telah diinfakkan itu.) Wahai Putra Rasulullah, saya sangat banyak berinfak, namun, Allah tidak menggantinya." Imam Shadiq menjawab, "Apakah mungkin Allah tidak memenuhi janji-Nya? Lelaki itu menjawab, "Tidak" Imam Shadiq melanjutkan, "Berinfaklah dari harta yang didapatkan secara halal, jika Allah tidak menggantinya, barulah engkau mengeluh." (IRIB Indonesia) kutip dari http://indonesian.irib.ir/en/keluarga/-/asset_publisher/aAd0/content/hikmah-ramadhan-bulan-puasa-kesempatan-untuk-merenungi-arti-kebahagiaan-yang-sesungguhnya/pop_up

No comments:

Post a Comment